Tampilkan postingan dengan label GURU PENGGERAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURU PENGGERAK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2020

GURU PENGGERAK : MENATA DAN MENATAP MASA DEPAN

Hari esok adalah misteri. Hakikat dunia yang mengajarkan betapa kita tidak boleh berhenti belajar. Kehidupan yang selalu berubah, kadang cepat kadang lambat, menuntut manusia untuk selalu bergerak. Bergerak dalam rangka belajar. Belajar untuk mempersiapkan perubahan. Perubahan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Belajar mempersiapkan masa depan yang tidak pernah berhenti mengajar.

Menghitung hari menuju sembilan bulan ke depan. Sembari menguatkan niat untuk apa bertahan di sini. Mimpi-mimpi yang dirajut, jadilah asa yang terpanjat dan tidak meredup. Insyaa Allah ..

Guru penggerak …

Sebagai wadah belajar menata dan menatap masa depan. Belajar menata pola pikir, bagaimana hendaknya guru menjadi teladan. Guru yang tidak sekedar mengajar, tapi juga belajar. Belajar bukan sekedar untuk memahami  bahasan yang diajarkan melainkan belajar bagaimana guru dan peserta didik dapat saling berkomunikasi dengan interaktif, inovatif dan solutif.

Dari sini, guru bisa belajar menatap masa depan. Harapan, impian, dan cita-cita yang seperti apa yang hendak dicapai. Baik bagi guru sendiri maupun bagi peserta didik. Harapan yang insyaa Allah mampu melahirkan rasa optimisme dan percaya diri untuk tetap bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Impian dan cita-cita yang tidak boleh surut oleh badai rintangan.

Utamakan hak Allah, jangan terlupa. Tempat kembali dan menggantungkan segala harap. Semoga baik dan buruknya proses yang harus dihadapi dan hasil yang diterima, menjadi asbab kebaikan untuk menata dan menatap masa depan.

 

Teman-teman guru penggerak ..

Selamat belajar, selamat berkarya.

Salam dan bahagia!!!

MERDEKA BELAJAR JILID 5 : GURU PENGGERAK

Kurang sepekan

Menuju Sembilan bulan

Semoga takdir memihak

Langkah yang telah dipilih

Guru Penggerak

Takdir yang memihak

Semoga senantiasa sejalan

Dengan harapan

 

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Salam Guru Penggerak

Salam & Bahagia

Alhamdulillah, satu dari sekian realisasi kegiatan guru penggerak adalah dengan adanya blog ini. Insyaa Allah blog ini (salah satunya) akan diisi dengan berbagai kegiatan, tulisan dan realisasi dari berbagai tugas LMS selama 9 bulan kedepan. Antusias adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keseluruhan program ini, bagaimana tidak sepekan ini saja sudah sangat banyak hal baik yang bisa saya dapatkan lewat program pelatihan ini, dari materi-materi yang keren, fasilitator yang terbaik, pendamping yang pengertian serta teman-teman calon guru penggerak yang super duper luar biasa, suatu kebanggaan bisa bersua dengan guru-guru hebat diluar sana, sungguh sangat banyak hal positif yang saya bisa pelajari dari mereka yang lebih dulu berkecimpung di dunia pendidikan. Sebagai penutup saya ucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang terlibat dengan Program Merdeka Belajar Jilid 5 ini, Program yang sungguh luar biasa, Maju terus Pendidikan Indonesia, Salam Merdeka Belajar !!!

Rabu, 28 Oktober 2020

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA GURU PENGGERAK

 

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA

JUDUL MODUL         : ROLE MODEL

NAMA PESERTA       : TRY WAHYU SYAPUTRA, S.Pd., M.M.Pd

Latar Belakang

Salah satu yang melatar belakangi adalah masih kurangnya role model di lingkungan sekolah yang mampu menginspirasi, pun tata tertib yang masih terkesan sekadar kertas/papan terpampang, tetapi kurang aksi.

Tujuan

Meningkatkan kesadaran sedini mungkin yang tentu dimulai dari pendidik itu sendiri sebagai contoh dan penuntun bagi peserta didik ke arah lebih baik.

Tolak Ukur

Ketika peserta didik sudah mencontoh gurunya yang telah menjadi role model tadi, yakni dari kerapian berpakaian, bertutur kata baik, menjadi pendengar yang baik, suka menolong teman yang membutuhkan bantuan, mampu berkolaborasi di kelas dan lingkungan sekolah serta memiliki rasa tanggung jawab baik diri sendiri maupun kelompoknya.

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Hal yang pertama saya akan lakukan untuk menerapkan tindakan ini di kelas yakni menjadi pendengar yang baik yang lebih peka lagi dengan apa yang diinginkan peserta didik, yang kedua lebih memahami lagi karakter peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya, ketiga menjadi rapi dari sebelumnya baik berpakaian dan kebersihan diri, keempat perbanyak senyum di depan peserta didik upaya ini dilakukan agar lebih mudah dalam menjalin komunikasi baik dengan peserta didik, dan yang kelima dan ini yang terpenting menurut saya ialah lebih mematangkan lagi mental, moral, emosional, dan spiritual dari seorang pendidik agar mendapatkan peserta didik yang mempunyai karakter budi luhur dan apa yang seperti diinginkan bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara.

Dukungan yang dibutuhkan

Dukungan dari penanggung jawab sekolah yakni kepala sekolah, rekan guru, rekan tenaga kependidikan, dan yang paling terpenting ialah dukungan penuh dari orang tua/ wali peserta didik yang dimana menjadi salah satu dari tripusat pendidikan itu sendiri.

Selasa, 27 Oktober 2020

HAL POSITIF DARI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DI BUDAYA MANDAR

Setelah membaca dan menonton video tentang pemikiran KHD hal-hal positif yang bisa diambil adalah :

  1. Sikap pantang menyerah dan kerja keras seperti yang dilihat dari perjuangan KHD yang selalu memperjuangkan pendidikan
  2. Menyadari pentingnya pentingnya pendidikan dan memberikan pelayanan terbaik kepada siswa
  3. Aktif dalam kegiatan bermasyarakat

        Adapun Intisari dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu tentang budi pekerti yang luhur, tentang bagaimana memberikan tauladan, motivasi dan contoh yang baik untuk anak anak. Adapun salah satu hal positif yang ingin diterapkan di sekolah atau di kelas yaitu Budaya Malaqbiq pau (bertutur kata yang sopan) malabiq gau (hal hal yang baik dalam diri) dan malaqbiq kedzo ( perilaku yang baik). Meskipun banyak tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan budaya ini karena diera sekarang ini seakan akan budaya nilai-nilai luhur telah tergerus dan sudah tidak diperdulikan oleh masyarakat. Sehingga ini menjadi tugas guru bagaimana agar supaya nilai-nilai dari Ki Hajar Dewantara ini dapat dimunculkan kembali dan diterapkan dalam kehidupan bermsyarakat. Adapun Langkah-langkah yang bisa diambil untuk menerapkan malaqbiq kedzo dilingkungan sekolah : 

  1. Memberikan contoh tingkah laku dan kebiasaan yang mulia dan penuh dengan kesopanan
  2. Menampilkan perilaku/tingkah laku yang selaras dengan perkataan dan perbuatan.
  3. Membimbing anak-anak dalam bertingkah laku dan bertutur kata sesuai dengan adat dan kebiasaan orang mandar, contoh menerapkan budaya tabe' di depan guru atau orang yang lebih tua baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
  4. Membimbing anak untuk tidak memotong pembicaraan sebelum lawan bicaranya selesai berbicara.
  5. Menantiasa mengucap salam dan bertegur sapa yang baik kepada teman maupun siapa saja yang ditemuinya

Setelah menerapkan  langkah langkah diatas diharapkan budaya malaqbiq kedzo ini dapat diterapkan oleh anak anak disekolah sehingga dapat membentuk karakter anak yang baik, sopan dan mandiri  dan mempunyai rasa tanggung jawab dan berbudi pekerti luhur.

 

 

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA SESUAI BUDAYA DAERAH


    
    Hal – hal positif yang telah dipelajari dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang sesuai dengan budaya daerah yaitu bagaimana seorang guru menuntun dan membimbing siswa dengan hati yang ikhlas,
  tidak pernah menyerah  dalam  membina dan  mengarahkan siswa dalam memajukan pendidikan nasional,  serta  berparsipasi aktif baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat  dengan  membangun sebuah komitmen bersama yang tidak merugikan guru maupun murid, maupun masyarakat, memberi teladan yang baik dalam bertutur kata, bersikap dan bertingkah laku, sehingga unsur budaya mandar yang coba kami angkat dalam “Malaqbi” = Karakter yang baik, malaqbi  yang oleh orang mandar dikelompokkan menjadi   3 bagian yaitu :

  1. Malaqbi pau (Baik dalam bertutur kata) yakni  setiap orang dalam bertutur kata harus dengan etika dan adap tertentu, tidak menyama ratakan dalam bertutur kata dengan  siapa saja, misalnya cara bertutur kata dengan orang yang lebih tua dari kita akan berbeda dengan cara  a bertutur kata dengan orang yang sebaya dengan kita, begitu pula  dengan  cara bertutur kata dengan orang yang lebih muda  dari kita.
  2. Malaqbi gau (Baik  dalam bersikap) maksudnya orang harus menjaga sikapnya dalam menjalani setiap aktivitas dalam kehidupannya sehingga orang sekeliling kita merasakan manfaat dari sikap kita yang baik, dengan tidak menonjolkan sikap yang buruk yang nantinya dapat ditiru oleh siswa kita selaku generasi muda, pelanjut dan  pemimpin masa depan kita nanti.
  3. Malaqbi Kedo (Baik  dalam bertingkah laku), maksudnya bahwa dalam bertingkah laku dalam kehidupan harus mencerminkan kearifan budaya lokal daerah itu sendiri yang menjadi aset budaya  nasional kita  serta  diselaraskan dengan ajaran agama, sehingga segala tingkah laku kita bisa diterima di masyarakat dan dapat dijadikan teladan buat orang lain terutama kepada generasi muda milenial kita yang sudah dimasuki oleh peradaban asing  yang bersifat global yang sewaktu-waktu bisa menyerat mereka bertingkah laku yang melanggar budaya dan agama yang kita anut.

        Satu hal positif dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang akan diterapkan di kelas/disekolah kami yaitu :

  1.  Malaqbi pau (Baik dalam bertutur kata/berbicara) yakni  melarang siswa agar tidak membiasakan berbicara  atau memanggil kepada orang yang lebih tua seperti  guru, kepsek, staf, caraka dan satpam sekolah dengan kata “ i’o puang” yang  artinya “kamu pak/ibu”, tapi menggantinya dengan kata “ita puang” yang artinya “kita pak/ibu”. Selain itu juga seorang guru ketika memanggil  murid atau peserta didiknya “O ‘Ka’be” yang  artinya “Hai anakku” sehingga siswa kita merasa disayang serta dekat dengan sang guru, begitu juga dengan yang adik memangil ke kakaknya dengan panggilan “o’kaka” = Hai  Kakak, seorang kakak memanggil ke adiknya dengan panggilan “o’kandi” yang artinya “Hai adik”  selain itu tidak berbicara ketika seseorang berbicara utamanya saat orang yang lebih tua berbicara serta tidak memotong pembicaraan seseorang saat berbicara
  2.  Malaqbi gau (Baik dalam bersikap) dan Malaqbi kedo (baik dalam bertingkah laku) yakni mengatur cara, adab dan sikap dan tingkah laku dalam bergaul dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat mulai dari cara duduk, biasanya dengan duduk bersila, membungkukkan badan ketika lewat dikerumunan orang sambil mengucap permisi mau lewat, saling memberi salam saat bertemu, membudayakan bersalaman saat masuk atau keluar dari kelas maupun sekolah,  bersikap jujur  misalnya dengan kantin jujur, rajin belajar, rajin kerja tugas, disiplin dalam belajar dan hadir disekolah, dan lain-lain sehingga nantinya akan tercipta suatu keharmonisan dalam lingkungan kelas  terutama pada lingkungan  sekolah.

Tantangannya :

Anak didik kita memasuki zaman milenial dan global sehingga segala cara berbicara, bersikap dan bertingkah laku sudah terkontaminasi dengan budaya luhur bangsa ini.

Solusinya :

Memulai dari lingkungan keluarga dulu diajarkan bagaimana cara bertutur kata yang baik, di sekolah dibiasakan lagi untuk tetap bertutur kata yang baik pula, kalau di rumahnya anaknya tidak pernah ngaji maka disekolah diadakan ngaji bersama, selain itu juga jika dirumahnya tidak pernah shalat maka di sekolah di adakan kegiatan shalat jama’ah bersama, di rumah tidak dibiasakan salam dan salaman dengan orang tua, maka di sekolah sebelum masuk/pulang sekolah selalu salaman dengan bapak/ibu gurunya.

FILOSOFI PENDIDIKAN KHD GURU PENGGERAK

 

Modul 1.1.a.9. Koneksi Antar Materi

Nama                        : Try Wahyu Syaputra, S.Pd., M.M.Pd

Asal Sekolah            : SMP Negeri Tubbi

Kabupaten               : Polewali Mandar

Provinsi                    : Sulawesi Barat

 

Manusia memandang dan menyikapi apa yang terdapat dalam alam semesta bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya pandangan manusia tergantung pada faktor dominan yang mempengaruhinya. Seperti halnya pendidikan calon guru penggerak ini, hanyak hal yang tadinya saya anggap dominan dan baik diterapkan di sekolah nyatanya hal itu kurang tepat, seperti memberikan perintah dengan paksaan, memberikan tugas terlalu berat ke siswa dan lain-lain.

Alhamdulillah, setelah mempelajari tentang modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara selama kurang lebih sepekan ini banyak hal baik yang bisa saya teladani, dari menjadi among yang baik sampai memerdekaan belajar anak. Pendidik yang mampu mengolah cipta, rasa, karsa dan raga seorang anak secara seimbang tentu akan berujung pada terbentuknya pribadi-pribadi yang bijaksana serta berbudi pekerti luhur dan itu yang ini saya terapkan di sekolah saya nantinya.

Dalam waktu dekat ini saya ingin menerapkan salah satu dari konsep filosofi pendidikan KHD yakni menjadi seorang Role Model di kelas, sejatinya banyak opsi yang ini saya terapkan di sekolah tetapi karena pandemi COVID-19 hal tersebut saya pending dulu seperti membuat kelas bersih, pagi ceria, literasi dll. Di sekolah saya menerapkan mode Luring (Luar Jaringan) yang mana pada saat sekarang ini guru berkunjung ke rumah-rumah siswa untuk memberikan dan mengumpulkan tugas, jadi hal tepat yang saya akan terapkan dalam waktu dekat ini yakni Role Model/Panutan/Contoh.

Dibawah ini adalah bagan rancangan tindakannya :

 

Profil Pelajar Pancasila "KEBINEKAAN GLOBAL"

 

KEBHINEKAAN GLOBAL

        Profil Pelajar Pancasila adalah implementasi dari program penguatan karakter yang  selama ini telah digaungkan dalam dunia pendidikan Indonesia. Tujuan utamanya adalah Pelajar Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

            Salah satu dari profil Pelajar Pancasila adalah ‘Kebhinekaan Global’ yang diartikan sebagai perasaan/sikap menghormati keberagaman atau mencintai toleransi terhadap segala jenis perbedaan yang ada. Profil Kebhinekaan Global tentu bukan hal baru, karena Semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang telah diagungkan dan diagungkan sejak dulu, seyogyanya adalah satu bagian utuh yang sama. Kebhinekaan merupakan kharakteristik yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultur atau heterogen. Penambahan kata global kemudian menjadi pengembangan bahwa kesadaran tentang nilai-nilai kebhinekaan terus berkembang mengikuti zaman. Pelajar kita hidup di zaman yang penuh kompetisi, oleh karenanya penanaman nilai-nilai kebhinekaan harus diterapkan sejak dini, sehingga terbentuk pribadi-pribadi berkarakter yang siap bersaing tidak hanya di kancah lokal, namun juga di kancah internasional.

          Pemeliharaan kebhinekaan masyarakat Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat termasuk lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebhinekaan atau pendidikaan multikulturalisme kepada siswa agar muncul kesadaran betapa pentingnya nilai-nilai kebhinekaan bagi masyarakat yang kaya keberagaman. Dengan adanya kesadaran tentang nilai-nilai kebhinekaan yang diajarkan sejak dini, maka setiap pelajar kita akan memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan suku, ras, agama, dan tata nilai yang terjadi di lingkungan masyarakat.

        Yang dilakukan untuk mencapai profil pelajar pancasila yang berkebhinekaan global adalah penanaman nilai-nilai kebhinekaan sejak dini, yaitu nilai-nilai yang mengajarkan tentang menghormati, solidaritas/kekeluargaan, kesetaraan, toleransi, dan hal-hal baik lainnya yang dimulai dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Pelajar dibekali pengetahuan tentang sejarah, juga diberi kebebasan terkontrol dalam mengeksplor media untuk menambah pengetahuan tentang dunia. Sesuai dengan jargon “Think globally, act locally". 

         Masa terus berjalan, generasi pun berbeda, sikap dan karakteristiknya terus berkembang. Di tengah media yang terbuka lebar, genarasi millennial sekarang cenderung mencari jati diri yang mereka inginkan. Dengan faktor lingkungan, teman, serta media sosial membuat generasi millennial sekarang cenderung labil dan mudah terombang-ambing atas gelombang pemikiran yang tidak jelas arahnya. Perbedaan-perbedaan terkadang menjadi gesekan yang menyebabkan bentrok. Segala aspek penuh kompetisi. Itu mengapa konsep kebhinekaan global ini perlu ditanamkan agar keselarasan serta keutuhan tetap terjaga dan generasi kita siap menjadi pribadi-pribadi unggul secara lokal maupun global. 

       Untuk mencapainya, maka teori harus disertai praktik nyata. Role model harus tidak hanya dari rumah, tapi juga di sekolah. Hal-hal sederhana yang kemudian mengakar menjadi kebiasaan akan menjadi budaya baik yang tertanam dalam setiap pribadi anak, sebagai contoh :

  1. Saling menghormati dan tidak membeda-bedakan teman yang berbeda suku, bahasa maupun agama.
  2. Menghormati setiap perbedaan dalam berpendapat.
  3. Menjaga lisan dan laku terhadap sesama.
  4. Mau terbuka pada setiap kritik dan saran yang membangun.
  5. Mendorong dan memberikan semangat kepada siswa

       Seluruh pihak yang terkait dalam perkembangan tumbuh kembang anak tentu akan bersumbangsih. Mulai dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat di mana ia belajar dan bertumbuh. Terkhusus Orang tua dan pihak skeolah sekiranya menjaga hubungan komunikasi yang baik dalam mengontrol pergaulan dan belajar anak. Memberikan mereka akses seluas-luasnya dalam melakukan proses pembelajaran bermakna, tetapi tetap berperan menjadi filter dan controller dalam setiap informasi yang diakses sang anak